Tamparan di Pipi Gereja dan Beban Salib Kristus: Sebuah Refleksi Teologis atas Intoleransi di Indonesia
Di berbagai wilayah Indonesia, kita masih menyaksikan fakta menyedihkan tentang gereja-gereja yang disegel, ibadah yang dibubarkan, umat Kristen yang diintimidasi, bahkan ditolak hak dasarnya untuk beribadah.
Peristiwa-peristiwa intoleransi ini bukan hanya berita duka bagi kerukunan bangsa, tetapi juga menjadi pukulan keras bagi umat Kristen. Namun, apakah ini hanya tentang keadilan sosial dan kebebasan beragama semata? Atau adakah sesuatu yang lebih dalam, sebuah makna spiritual dan teologis yang sedang Allah izinkan untuk kita alami?
Yesus pernah berkata dalam Khotbah di Bukit: "Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu." (Matius 5:39)
Ajaran ini sering kali terdengar utopis, bahkan sulit diterima. Namun inilah yang membedakan Kekristenan: kasih yang radikal, kasih yang tak bersyarat, bahkan terhadap mereka yang menyakiti kita.
Intoleransi sebagai Ujian Iman
Terlalu sering umat Kristen berharap negara menjadi penyelamat dalam setiap persoalan gereja. Tidak salah bila kita menuntut keadilan dari aparat atau mengupayakan perlindungan hukum, itu hak warga negara. Namun, bila gereja hanya menggantungkan harapannya pada kekuasaan duniawi, bukankah itu tanda bahwa salib Kristus belum sungguh-sungguh dipikul?
Intoleransi terhadap umat Kristen seharusnya dipahami bukan hanya sebagai masalah sosial, tetapi juga sebagai ujian iman. Sebuah kesempatan untuk membuktikan: apakah gereja benar-benar setia kepada panggilannya sebagai tubuh Kristus, yang harus menderita bersama Sang Kepala Gereja?
Gereja mula-mula tidak pernah mencari perlindungan dari kekaisaran Romawi. Mereka tidak membalas penganiayaan dengan kekerasan, tapi dengan kasih dan pengharapan akan Kerajaan Allah. Justru dalam penderitaan itulah gereja tumbuh, karena salib Kristus diberitakan, bukan disembunyikan.
Memikul Salib dalam Konteks Bangsa
Memikul salib bukanlah sekadar metafora rohani. Dalam konteks Indonesia yang plural dan kompleks, salib itu berarti berani mengasihi mereka yang membenci kita, tetap setia menyuarakan damai di tengah provokasi, dan terus membangun relasi lintas iman meski ditolak. Salib bukan hanya simbol penderitaan, tetapi jalan kemenangan dalam kekudusan.
Kita perlu mengingat bahwa Kristus tidak menjanjikan jalan yang mudah. Ia berkata, “Barangsiapa mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku” (Mat. 16:24). Maka, gereja tidak dipanggil untuk nyaman, melainkan untuk setia.
Gereja yang Tumbuh Lewat Luka
Ada luka-luka yang harus gereja alami, bukan karena Tuhan lalai, tapi karena di situlah gereja dimurnikan. Dalam sejarah, justru ketika gereja tertekan, ia menjadi lebih murni, lebih berani, dan lebih setia pada Injil. Mungkin inilah waktunya bagi gereja di Indonesia untuk berhenti bergantung pada kekuasaan dunia, dan mulai membangun kekuatan rohani yang sejati: lewat doa, penginjilan, pelayanan kasih, dan keteladanan hidup.
Tentu, kita tidak boleh diam terhadap ketidakadilan. Tapi dalam menyuarakan keadilan, kita tidak boleh kehilangan kasih. Dalam menuntut hak, kita tidak boleh kehilangan kerendahan hati. Dan dalam menghadapi tekanan, kita tidak boleh kehilangan pengharapan.
Jangan Takut Menjadi Gereja
Intoleransi bisa menjadi alat setan untuk menghancurkan gereja, tapi bisa juga menjadi alat Tuhan untuk membentuk gereja. Pilihan ada pada kita: maukah kita menjadikan salib sebagai kekuatan, bukan kelemahan? Maukah kita menunjukkan kepada dunia bahwa kasih Kristus tetap hidup, bahkan ketika dunia menolak-Nya?
Sebagaimana Kristus tidak lari dari salib-Nya, demikian juga gereja tidak boleh lari dari panggilan penderitaannya. Karena di balik salib, selalu ada kebangkitan.
"Diberkatilah kamu, jika karena Kristus kamu dicela dan dianiaya, karena Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah, ada padamu." (1 Petrus 4:14)

Komentar
Posting Komentar